Buya (Dr. Agus Syihabudin, MA.)

Asalamualaikum warohmatullahi wabarokatuh.
Kami menyampaikan  Selamat Hari Raya Idul Fitri 1443H, dengan iringan doa Taqobalallohu minna wa minkum, semoga amal ibadah kita diterima Alloh SWT
Mohon maaf lahir dan batin Serta berharap semoga kita masih diberi kesempatan untuk bertemu kembali dengan Ramadan-ramadan yang akan datang dengan penuh limpahan kesehatan
Aamien yaa Robbal alamin.
Wassalam
Asep Gana Suganda & kel.

Itu WA yang saya terima pada saat Idul Fithri 1443 H yang baru lalu atau tepatnya hari Senin tanggal 2 Mei 2022.

Pak Asep, begitu saya biasa menyapa beliau ketika berjumpa dengannya atau berteleponan, tak dapat saya lukiskan bagaimana awal pertemanan dengannya, karena selain sesama dosen di ITB juga istri beliau, Hj. Erna, merupakan salah seorang jamaah aktif di Majelis Ta’lim Muslimah Salman.

Saya masukkan nama beliau ke dalam list broadcast WA yang menjadi tempat saya rilis berbagai tulisan saya. Nampak sekali antusias beliau terhadap urusan ibadah dan problematika keumatan. Hal demikian terlihat dari respons beliau yang selalu aktif membaca tulisan-tulisan saya, permintaan izin beliau untuk menshare, dan menyampaikan tanggapannya sendiri serta menyambungkan tanggapan dari teman-teman yang mendapatkan kiriman darinya kepada saya.

Ketika ebook saya dengan judul “Antologi Dialog Ibadah dan Kemasyarakatan Implementasi Islam Rohmatan Lil ‘Alamin” terkirimkan kepada beliau, nampak keaktifan beliau dalam menyimaknya. Hal ini terlihat dari respons beliau yang detail sampai mengusulkan perbaikan “find page” untuk memudahkan pembacanya.

Sering sekali beliau bertanya dan mendiskusikan berbagai masalah. Mulai soal ibadah hingga urusan kemasyarakatan. Terecord di WA saya tertanggal 10 Mei 2020 beliau bertanya tentang Lafaz doa antara dua sujud. Tanggal 12 September 2020 bertanya tentang tafsir Al Mutafifin 14. Tanggal 3 Februari bertanya tentang “bunga bank”. Tanggal 7 September 2021, beliau merespons tulisan saya tentang “Hukum membuat gambar/patung” dengan seolah-olah membuatkan kesimpulan dalam bahasan sunda: “Teu kenging teh upami disembah … sareng kalebet sanes kanten sapertos batu ali, keris patung, oge sepeda di Jedah”. Terhadap bahasan saya tentang penetapan awal Ramadhan 2022, beliau memberikan komentar cerdas: “Waktos subuh, dhuhur, ashar, maghrib, isya pan kiwari mah ningali jam he he he”. Demikian sebagian saja dari sekian banyak komunikasi via WA saya dan beliau.

Ketika Masjid Al Haromain dan Gedung Asrama Al Haromain di Jalan Tubagus Ismail Raya Bandung dibangun, beliau sering meminta staf saya untuk menemui beliau. Sudah berulang kali beliau menitipkan shadaqahnya untuk penuntasan pembangunan baik masjid maupun asrama.

Malam tadi sekira pukul sepuluh malam, setiba saya di rumah dari mengurus jenazah saudara saya di Garut, saya membaca WA dari ibu Hj. Rosy Yusuf tentang kepergian beliau menuju Sang Khaliq. Inna lillah wa inna ilahi rooji’uun.

Saya menjadi saksi akan sikap dan akhlaq beliau sekaligus perannya bagi umat baik melalui sektor pendidikan, maupun penyiaran nilai-nilai Allah demi membangun peradaban. Oleh karenanya, saya berkeyakinan sekaligus sebagai doa kiranya beliau kembali kepada Rob Sang Penciptanya dalam keadaan khusnul khaatimah.

Allohumma ighfir lahu, wa irhamhu, wa ‘aafihu, wa’fu ‘anhu, wa akrim nuzulahu, wa wassi’ madkhalahu.

Selamat jalan hamba Allah yang soleh. Kembalilah sang jiwa dengan penuh ridha Penciptanya, irji’ii ilaa robbika roadhiyatan mardhiiyah.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *